Kontes Audio Mobil Seni, Bukan Sekadar Pamer



Di kota-kota besar Mungkin Anda tidak menyadari bahwa sebagian hidup kita ada di mobil. Bayangkan saja perjalanan rutin dari rumah ke kantor ditempuh dalam hitungan jam. Ujung-ujungnya banyak pengendara stres. Maka mendengarkan musik atau berita dari radio adalah solusinya.
Berkaitan dengan musik, tentunya suara dari tape mobil harus cukup baik sesuai selera pendengarnya, Tapi timbul pertanyaan, bagaimana suara yang baik tersebut?
Bila Anda pernah menonton konser musik maka itulah suara yang baik. Artinya, suara yang sama dengan suara aslinya, di mana kita bisa mendengar semua instrumen musik dengan jelas sesuai dengan posisinya.

Begitu pula bila ada penyanyinya, maka posisi dan karakter suaranya pasti bisa diketahui dengan baik. Ini yang disebut dengan kesan panggung atau staging. Tapi untuk merealisaikan kesan panggung (staging) di mobil tidaklah mudah.Mobil memiliki keterbatasan secara teknis seperti listrik yang tersedia. Mobil memiliki akustik yang jelek, sehingga peletakan speaker cukup sulit. Akibatnya, timbul noise yang dihasilkan oleh mobil yang sampai ke telinga pendengarnya. Di sinilah keahlian para instalator audio mobil diuji. Atas dasar itulah maka lahir lomba atau kontes audio mobil,
Soal kontes audio mobil, IASCA Indonesia mengacu pada organisasi induknya yang berpusat di Amerika. IASCA adalah suatu badan resmi dunia yang mengeluarkan aturan penilaian dalam lomba audio mobil. Pedoman maupun cara penilaian dalam kontes bukan melulu untuk memilih seorang juara.Aturan lebih bersifat mendidik agar perangkat audio yang dipergunakan memang bisa menghasilkan suara sesuai standar agar bisa dinikmati oleh pemiliknya. Di sisi lain, IASCA sangat memperhatikan faktor keamanan, saat perangkat audi berada di mobil maupun saat dipergunakan.
Berangkat dari standar suara yang baik yang mengacu pada home audio maka sebisa mungkin suara yang ada di mobil mendekati suara home audio. Untuk sama persis, pasti tidak mungkin karena ada kendala-kendalanya. Contoh, pengaruh posisi speaker. Bila home audio speakernya tertata rapi di depan maka di mobil speaker terbagi dua, di depan dan belakang.Khusus untuk subwoofer, dikarenakan ukuranya yang besar maka mau tidak mau harus ditempatkan di bagasi. Juga, agar suara dari subwoofer bisa terdengar di depan perlu keahlian instalator dalam menghitung respons frekuensinya.

Keamanan
Terkait hal itu maka IASCA, memperhatikan pula faktor keamanan. Di sini mobil adalah sarana transportasi. Jadi kemungkinan terjadi kecelakaan pasti ada. Beberepa contoh aturan IASCA yang menyangkut keamanan seperti kabel, sikring, pemasangadan speaker dan perangkat lainnya.
Tentang kabel, ukurannya harus benar-benar sesuai dengan daya dari perangkat audionya. Bila terlalu kecil bukan tidak mungkin saat dipergunakan kabel akan panas dan terbakar.
Jadi bila diteliti lebih jauh sebetulnya aturan yang dikeluarkan IASCA juga merupakan patokan bagi instaltor audio. Di Amerika dan di beberapa negara di dunia, aturan ini sudah menjadi hal baku, tidak melulu untuk kontes tapi juga mendesain sebuah sistem audio mobil yang baik.
Aturan IASCA lebih condong memberikan pendidikan tanpa pilih-pilih. Maka kontes audio mobil dengan aturan IASCA yang diperhatiakn hanyalah suaranya.Merek apa dan berapa harganya menjadi tidak penting dan tidak mendapat penilaian.lebih kepada daya atau Watt yang dihasilkan oleh suatu sistem.

Juara
Saat ini kemajuan audio mobil di Indonesia tidak kalah dengan negara-negara lain di dunia termasuk Amerika sendiri. Di Amerika ada seorang pelajar Indonesia beberapa kali berhasil merebut juara IASCA. Kontes audio mobil di Indonesia mulai digelar sejak tahun 1990-an dan sudah memakai aturan IASCA, termasuk perangkat CD untuk mengujinya.
Menurut Rudi, waktu itu IASCA hadir di Indonesia atas prakarsa beberapa importir perangkat audio. Di awal kehadirannya IASCA terlebih dulu menggelar pelatihan-pelatihan bagimana menginstalasi suatu sistem audio mobil yang baik yang diberikan langsung oleh trainer dari Amerika.
Sebagai pembuktian keberhasilan mengikuti pelatihan digelarlah kontes. Walaupun pada saat itu Indonesia belum memegang lisensi IASCA.
Baru pada 2004 Indonesia resmi menjadi anggota IASCA. Setelah vakum cukup lama IASCA Indonesia kembali menggelar kontes-kontes. Saat ini IASCA Indonesia memilik 11 orang juri resmi. Dalam program berikutnya IASCA kembali akan mengadakan pelatihan-pelatihan agar dunia audio mobil Indonesia bisa terus berkembang.